Senin, 15 Februari 2010

Puisi-puisi Putri Narita Pangestuti




JALAN CAHAYA

jiwaku memanjat tebing sunyi
mencari celah dari gelak tawa dunia
seperti air meresap-resap
tiada mampu membendungnya

jiwa kecilku
tak henti bernada
terus melesat
menyempurna pada keagungannya

aku mengira inilah jalan cahaya
dibendung tak limbung
diterjang tak karam

jalan cahaya ada dalam rahasia
memanjat sulbi-sulbi jiwa
yang menanam biji bunga seroja

Putri Narita Pangestuti
12 Februari 2010




PERAHU ASING

perahuku menjelma dari kulit suara
mengangkut biji wicara
dari lautan makna
tertitah dari zat yang Maha Menatap

mendayung
aku membawanya pada lautan jiwa

orang menatapnya sebelah mata
sebagian lagi bertutur cela
ada juga yang menutup rapat telinga
asyik berakrobat dengan dayung-dayung
dan balok suara mereka

perahuku dicela tak berharga
dan aku dianggapnya pemantra gila

sedang perahukulah
yang bisa sampai berlabuh pada dermaga surya

Putri Narita Pangestuti
12 Februari 2010




YANG ADA DAN TIADA

tak ada yang mampu menyamai
yang paling tiada, kecuali
yang paling ada

karena yang paling ada
ialah
yang paling tiada
ia tak berawal
tak berakhir

Putri Narita Pangestuti
12 Februari 2010




PERANG DAN KEBENARAN

angin memecah dua paru-paruku
pedang amarahmu menancap di jantungku
dan peperangan dari tatapan mata kalian
menyobek-nyobek nadiku

langkahku di antara perang dua kekuatan yang dicipta Tuhan
aku hanyalah penonton gila
tentang perebutan kuasa

surya
sinarnya menyempitkan pandangku tentang keduanya
angin
mengikat tulang dan memeras darahku hingga tak bersisa
mendung
merabunkan mata jiwaku dalam peluk senja

kepak merpati
kurindu
langit biru
harapanku
dan malam itu
membawa kebenaran dari Tuhan

kebenaran mana yang diusung manusia?
mereka saling mengada dan meniadakan!

bisik abadi
adalah kebenaran
di jiwa
dan Tuhan pengirimnya

Putri Narita Pangestuti
13-02-2010/11:36:27




JEJARING API

lingkaran-lingkaran api
julurkan jejaring
rupa garisgaris singgung dalam
juga luar
tiada lubang padanya
ia tak butuh as untuk tempat berputarnya
juring-juring tertanam rapat di sana
berharap aku masuk perangkap liarnya

Putri Narita Pangestuti
Semarang, 13/02/2010




KISAH ANGIN

aku mendengar kisah angin
dan mendapati abu-abu dirimu

angin kuat menyusu
hingga bayimu terlalu lemah untuk itu

ingatkah kau saat buih merayumu
dan kabarkan bau amis sungai itu?
langit telah berkata
tak ada lagi yang berani
berkisah tentang surya

angin masih lekat di dadamu
sedang wajah anakmu
selalu mengabu
dalam jeritan tinta
di buku-buku itu

Putri Narita Pangestuti
Semarang, 13/02/2010




TITAH

Kutitipkan tanah ini padamu
dan ayat yang menyertainya
tatkala cahaya menampikkan
Aku tahu
yang kau tak tahu

selami ayatKu
dan dayung perahu itu
hingga sempurna keseluruhan samudra

ingatlah pendengarnanmu,
tatapanmu dan hatimu.
sungguh Aku tahu
angka-angka yang tak terbaca olehmu

Putri Narita Pangestuti
Semarang, 13/02/2010




RUANG EMBUN

embun menyimpan pelangi
di beningnya sinar mentari
serupa jiwa-jiwa
yang luruh
ke dalam esensiNya

Putri Narita Pangestuti
Semarang, 13/02/2010




TAHBIS BULAN

kucerna bulan
sampai ke perut tanpa kukeluarkan
lalu kutahbiskan purnama hingga yang tak terhingga
agar bisa kukirimkan bintang pada kalbu dunia
yang mencari dekap langit di hatinya

Putri Narita Pangestuti
Semarang, 13/02/2010



JEJAK MATAHARI

aku gambar jejak-jejak matahari
di kanvas hati
juga kupahatkan di peti-peti
dalam meditasi sunyi

Putri Narita Pangestuti
Semarang, 13/02/2010

Jumat, 01 Januari 2010

Dari Penyair Cyborg untuk Gus Dur




In Memoriam: Gus Dur

di ujung 2009
kau dijemputNya, Gus
hujan di luar gerimis
hujan di dalam menangis
mengiringi kepergianmu

semua tertunduk
dan berdoa untukmu, Gus
untuk tempat terbaik
dan mulia di sisiNya

rakyat sungguh mencintaimu
dan menyayangimu, Gus
kau telah memberi contoh terbaik
bagaimana selesaikan tragedi 65
bagaimana selesaikan konflik israel

“gitu aja kok repot.”

tapi di ujung 2009
kau pergi
ketika rakyat belum sempat melihat fajar
menyinari negeri ini

selamat jalan, Gus
doa kami selalu untukmu

Citayam, 30 Desember 2009
ASEP SAMBODJA


Kembang Api
: gus dur

2010 kembang api telah kau sulut lebih dini
di angkasa pijaran cahayanya memecah ke penjuru kesadaran
berubah menjadi ribuan kisah kebajikan

2010 kembang api kau nyalakan lebih lekas
sejak dulu sebelum masa depan mengamini
seluruh kata-katamu

2010 kembang api mu tak akan pernah padam
bahkan setelah selaksa jiwa lelah oleh pesta semalaman
dan menemukan hari esok tak berubah seperti kemarin

2010 kembang api kau sulut lebih dini
Menerangi jalan persemayamanmu.

31/12
TULUS WIJANARKO


Gus
:/Gus Dur

keluasan sorga itu telah menunggumu gus
berkat tapak jejak tebaran hikmah
jadi selimut kabut meruah tangga
menghantar ke istana kebesaran tuhan
teriring alfatihah yang menjadi madah

gus, ajaran hidupmu kan tetap purnama
lestari menembus lubuk-lubuk jauh
menjadi benih di pusaran buih
lahirkan generasi pantang menyerah
di lapak-lapak bangsa yang sedang mengarah panah
ke jantung-jantung gairah
demokrasi, seperti yang kau titah

gus, ketika kau tiba di sisi altar tuhan
sampaikan permohonan kita
sebagai anak-anak bangsa
katakan: "cinta akan kemanusiaan jangan cepat di tarik ke aras langit!
hingga kita segera menjelma ternak-ternak tanpa nilai
kembali ke abad kelam
tenggelam ke pusar bumi, kembali

gus, mungkin hanya doa iringkan tatap sebagai penghantar
kau kembali ke haribaan
menyempurnakan perjalanan
karena mula asal berada di genggaman
Tuhan!

Bandung,31 Desember 2009
RAMA PRABU


Selamat Jalan

seorang tokoh telah pergi ke langit
gerakan akar rumput liar kehilangan

guyonan politik bergaya ngekik
tersimpan dalam hati pengikutnya

nyanyian anak jalanan semakin parau
debu kemerdekaan jadi bayangan

dan orang makin yakin, perjuangan
membela kepentingan orang miskin

Amsterdam, 30/12/2009
HERI LATIEF


Kami Melepasmu dengan Suka dan Rela
: Gus Dur

kami berkabung tersebab cinta. cintamu pada manusia, pada semesta. kami ingin melepas perjalananmu dengan suka dan rela, tetapi lidah kami hampa rasa, gugur kata-kata.

kami ingin mengantarmu memasuki gerbang cahaya, pintu perjalananmu selanjutnya. tapi kami hanya kuasa tersedu, tak mampu menggandeng tanganmu.

kami berkabung tersebab cinta. kami melepasmu dengan suka dan rela, seperti tawamu yang lepas dan rela, seperti mata kami yang ikhlas menghujankan air mata.

TEGUH SETIAWAN PINANG


Kehilangan

Ketika dia ada
Seakan dia tak perlu selalu ada
Ketika dia pergi
Seakan dia tak perlu harus pergi

Seusai mentari membenamkan diri
Dan dikala merah senja tersapa malam
Ada linangan air mata membasah pipi
Ada kepergian yang tak mungkin lekam

Ketika dia kaku
Seakan tak perlu ada rasa galau
Ketika dia membiru
Seakan mengharu biru dada bergemuru

Setangkai bunga semerbak
Mengiringi langkah pilu
Membungkus putih sebujur haru
Bagai tak percaya mata membelalak

Sejuta doa penghantar
Walau hati tak begitu rela
Hanya untuk sekedar menghibur
Dari dirimu yang selalu mengundang tawa

Selamat jalan
Sebab ada tuhan menunggumu
Menanti sedikit ceplosan lelucon
Menikmati indahnya surga tuhanmu

Toddopuli
31 Des 2009
MUHAMMAD SIRUL HAQ