Minggu, 06 September 2009

Tentang Buku yang Dibakar Si Bodoh



karena pikiran tak sampai
ia membakar buku

karena hati terbakar
ia pun membakar buku

karena iman cuma seberapa
ia pun membakar buku

karena bodoh
ia membakar buku

karena mata hati telah dibutakan ketidaktahuan
ia pun membakar buku

karena nafsu hewani
ia tak membakar ayam, tapi membakar buku

karena tak mampu membaca zaman
ia membakar buku

buku-buku yang terbakar menjadi saksi
betapa masih bodohnya bangsa ini

betapa bodohnya...


Citayam, 6 September 2009
Asep Sambodja

Selasa, 01 September 2009

Kehilanganku




di musim ini
aku tersudut di kesunyian
melintasi sakit
memasuki alam yang entah

aku merasa ada yang hilang
mungkin menjauh
tapi aku ingin sekali mendekapnya
aku sangat ingin

di musim ini
sepertinya aku sering menangis
tapi tak ada airmata
semuanya kering
seperti kemarau ini

ya allah...
aku berada di pucuk-pucuk tebing
gampang terbuai angin
peluklah aku
dekaplah aku
sayangi aku lagi ya allahku...


Citayam, 1 September 2009
Asep Sambodja

Selasa, 09 Juni 2009

Puisi-puisi Terbaru Asep Sambodja




Sajak Buat Irina

Irina,
kutahu kita belum pernah bertemu
bahkan ketika sajak ini kutulis untukmu

Irina,
kau bahkan tak tahu siapa aku
tapi kenapa begitu kuat kuingin bertemu denganmu
entah kapan kita bertemu,
entah kapan

tapi keinginan ini begitu menggebu
kuingin duduk di sampingmu
dan mendengar ceritamu

apa pun yang kau katakan
huruf demi huruf
akan kusimpan di hatiku
sebaik kusimpan cerita ibu

Irina,
ingin sekali aku mendengar kabarmu...

mungkin kau sedang di kamar, menyendiri
persis seperti aku kini
menyendiri
membaca cerita yang ditulis orang-orang kesepian

Irina,
ingin sekali kudengar cerita darimu
cerita apa saja
cerita apa saja....

asal darimu



Senja di Citayam

perjalanan semakin terasa jauh
saat tubuh kian rapuh

apa sebaiknya menunggu?

tidak, tidak,
menunggu adalah pekerjaan paling tolol
yang sering kulakukan

aku tak ingin menunggu

biar saja orang-orang menunggu
aku ingin berlari
dan terus berlari

sampai nanti
sampai mati
tapi aku tak mau menunggu

sebab menunggu
adalah jemu
adalah kelu



Senja di Hati

beginilah rasanya memasuki usia senja
sebentar-sebentar melihat jam
seperti ada yang dinanti
seperti ada yang menjemput

beginilah rasanya menjadi tua
sedikit-sedikit merasa sakit
padahal belaiannya masih seperti dulu
padahal cintanya masih yang itu juga

beginilah rasanya pernah muda
sebentar-sebentar membuka album
kenapa tidak seperti dulu saja?
kenapa detak umur tak bisa dikendalikan?

beginilah rasanya memasuki usia senja
gelisah kalau sendiri
resah kalau ada yang mati



Senja di Puri

suara surau kembali menyebut-nyebut namaMu
Kaulipat matahari dan Kausimpan
di sisi keranda yang khusyuk meringkuk
di samping surau tua

suara surau itu pun makin lama makin parau
tersengal-sengal oleh amplifier karatan
kadang-kadang terang kadang-kadang hilang
tapi surga yang dijanjikan tetaplah surga
bagi yang yakin dan setia

hanya suara surau itulah
yang kini menemani sepi-sepiku
hari yang berlalu
terasa hampa tanpa suara parau
yang menyebut-nyebut namaMu



Jangan Menangis, Prita!

demi apa rumah sakit didirikan?
demi uang
atau masyarakat yang sehat walafiat

apakah rumah sakit membuat orang semakin sakit?
bagaimana kalau dokter malpraktik?

lalu kenapa prita mengeluh?

kepada siapa keluhan itu diberikan
kalau rumah sakit merasa sakit mendengar keluhan itu?

apa yang sakit di rumah sakit?

demi apa aparat hukum dihadirkan?
demi uang
atau masyarakat yang adil dan sejahtera

apakah aparat hukum membuat orang semakin bingung?
bagaimana kalau aparat hukum bermain pasal?
transaksi dengan tersangka?

lalu kenapa prita dipenjara?

melarikan diri dan menghilangkan barang bukti?
--bukankah itu rumus yang kadaluarsa?

prita, orang-orang yang masih punya hati nurani
pasti akan membelamu

orang-orang yang tak punya nurani
delete saja dari kamusmu

jangan menangis, prita!



Kepada Perempuan September

malam itu
laki-laki desember berjalan di tengah gurun
ia tak membawa air
tapi hanya seutas tali
mungkin ia akan bunuh diri
karena patah hati

malam itu
ia lelah sendiri
tak ada sebatang pohon pun di gurun
ia benar-benar ingin bunuh diri
tapi tak ada pohon
untuk mengikat tali

keesokannya
ia malu sendiri
mau bunuh diri
tapi lupa bahwa di gurun
tak ada pohon beringin
yang ada cuma pasir
dan dingin
dan kebodohannya sendiri

ketika ia sadar bahwa ia bodoh
saat itulah ia mati


Citayam, Mei-Juni 2009
Asep Sambodja

Senin, 20 April 2009

Kado buat Theresia Yuni Kristanti



istriku,
aku hanyalah seonggok bangkai
yang semakin hari
semakin tak segar
keriput dan bau kentut
dan tak berarti apa-apa lagi

tapi karena cintamu
aku masih merasa
menjadi laki-laki
dan manusia

aku merasa menjadi laki-laki
karena masih berharga buatmu

dan aku masih merasa menjadi manusia
karena kehidupan di dunia
masih membutuhkanKu

Citayam, 16 April 2009
Asep Sambodja

Minggu, 29 Maret 2009

Situ Gintung



air
air
air
membedah tanggul
rubuh
air bagai bah
adzan subuh
masjid menggigil
air berenang di dalam rumah
pohon-pohon berenang
mayat-mayat berenang
siaran televisi
menangis
air
air
air berlumpur
air lagi
lumpur lagi
kematian lagi
kematian yang itu juga
tangis yang itu juga
luka yang itu juga
presiden
wakil presiden
pidato
pidato
luka lagi
di jakarta
mobil-mobil tak bisa berenang
orang-orang kandas
orang-orang datang
menolong
menangis
menonton
menangis
memohon
menangis
sakit lagi
sakit hati
menghitung yang mati
menghitung yang kembali
menghitung yang hilang
ibu
ibu
kematian ini begitu dekat
begitu akrab
gali lagi
lubang itu
tempat yang nyaman
masjid itu
kini kesepian
ia berdiri
sendirian
rumah-rumah beterbangan
kos-kosan menghilang
anak-anak kos menghilang
pemilik kos menghilang
menangis
menangis
air
air
air
air
tanah
berlumpur
menutup mata
siapa saja
di situ gintung
kota kenangan
kota yang indah
taman bermain
anak-anak yang ceria
pemancingan
yang kini luka
restoran yang kehilangan indah
tak ada air
sepi
sepi
luka
luka
Allah
Allah
Allah
Allah
...

Citayam, Long Weekend Maret 2009
Asep Sambodja

Rabu, 25 Maret 2009

Permintaan Maaf untuk Lelakiku



karya Erlinda


Maaf…
Jika aku selalu mengikuti jejak langkahmu
Jika aku selalu menuruti setiap perkataanmu
Jika aku terlalu setia padamu

Aku memang benar-benar membutuhkanmu, sayang
Karena...
Kau memang suamiku
Kau memang belahan jiwaku

Maaf...
Aku tidak bisa berpisah dengan dirimu
Walau keadaan selalu membuat kita berpisah
Walau orang-orang selalu menghendaki kita mati

Tapi...
Aku selalu mengharapkanmu
Aku selalu menunggumu
Aku selalu menantimu

Maaf...
Jika aku bukan wanita seperti dulu di matamu
Jika aku menjadi pelacur di matamu
Jika aku menjadi budak seks di matamu

Maaf...
Jika aku memberikan vaginaku kepada pria-pria itu
Jika mereka juga terpesona dengan vaginaku
Menghujamkannya dengan sebatang tongkat kayu

Maaf...
Jika aku merelakan payudaraku menjadi sarapan
Pria-pria itu
Jika mereka juga senang mempermainkan putingku
Dan tentu saja mereka kagum pada payudaraku
Mengalirinya dengan sebuah pembangkit listrik

Maaf…
Jika aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya
Jika aku yang kemudian selalu menafkahimu
Jika aku yang selalu memenuhi keinginanmu

Maaf...
Jika vagina ini tidak mampu menampung spermamu lagi
Jika payudara ini tidak bisa digenggam tanganmu lagi
Jika payudara dan vagina ini sudah tidak bisa
Memuaskan nafsumu lagi

Maaf...
Karena aku terlalu setia
Karena aku terlalu berharap
Menantimu
Hingga kau datang
Hingga kau kembali...

Sekali lagi maaf...
Payudara dan vaginaku bukan lagi untukmu
Bukan untuk para prajurit
Bukan untuk para maniak seks
Bukan juga untuk para lelaki

Maaf…
Hanya untuk wanita!


* Erlinda adalah mahasiswa Program Studi Belanda FIB UI.

Kamis, 05 Maret 2009

Dua Korea Satu Kroya



ada dua korea di dunia ini
satu di utara
satu di selatan
meskipun berdekatan
tapi terasa jauh tak karuan

politik memisahkan sanak famili
dan tak ada yang peduli

indonesia tak punya korea
yang ada hanya kroya
itu pun satu-satunya di jawa
tapi tak ada kroya utara
tak ada kroya selatan
hanya ada satu kroya

politik tak memisahkan laki bini
dan tak ada yang rugi

Citayam, 5 Maret 2009
Asep Sambodja